Sabtu, 04 September 2010

KHUTBAH IDUL FITRI 1431 H/2010 M

Ma’asyirol muslimin wal muslimat sidang ‘idul fithri yang di rahmati Allah

Ramadlan dengan segala aktifitas spiritual dan sosialnya telah banyak mengajarkan dan melatih kita tentang bagaimana kita menempatkan posisi kita dihadapan Allah SWT melalui ajaran-ajaran-Nya. Ramadlan juga telah meyapa kita lewat ibadah puasa untuk peduli kepada sesama yang membutuhkan melalui anjuran-anjuran memperbanyak shodaqoh & kewajiban membayar zakat fithrah yang selanjutnya diberikan kepada para mustahiq ( orang yang berhak menerima ) zakat. Dalam hal ini, membayar zakat fithrah selain merupakan kewajiban bagi yang mampu di saat menjelang berakhirnya Ramadlan, ia juga menjadi sarana penentu diterimanya amal ibadah puasa seseorang. Demikian menurut pendapat para ulama.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Dalam Ramdlanlah ; kesabaran kita dilatih, nafsu kita dikekang, ketaqwaan kita diasah, kepeduliaan kita terhadap sesama ditajamkan, nilai kebajikan dilipat gandakan pahalanya, dosa-dosa diampuni, yang keseluruhannnya itu sebagai fasilitas yang dapat menghantarkan kita kepada fithrah ( kesucian ).

Hadirnya bulan Ramadlan dengan segala kemuliaan & keutamaannya, tidak lain dan tidak bukan adalah karena ia merupakan salah satu tanda Rahman & Rahim-Nya Allah SWT kepada orang-orang yang merasa terpanggil keimanannya untuk melaksanakan ibadah puasa dan kewajiban lainnya serta mengamalkan nilai-nilai hikmah yang terkandung didalamnya. Karenanya, merupakan sebuah keberuntungan yang amat sangat buat kita yang telah bertemu dengan Ramadlan, Hal ini harus kita yakini sebagai tanda cinta & sayang-Nya Allah kepada hamba-Nya. Begitupun halnya dengan orang-orang yang beriman, ketika cinta menjadi sebuah landasan dalam setiap aktivitas di bulan Ramadlan, maka akan sangat kehilangan buatnya, di saat bulan Ramadlan meninggalkannya. Kalau boleh ia katakan ; “ Seandainya Allah menjadikan seluruh bulan dalam satu tahun adalah bulan Ramadlan, niscaya aku akan giat berdo’a agar aku diberikan umur panjang, sehingga dalam setiap hembusan nafas, aku akan selalu setia berada dalam bulan itu”.

Namun tidak demikian halnya, paling tidak untuk orang-orang yang beriman, nilai-nilai yang ia dapatkan di bulan Ramadlan akan selalu ia bawa dan ia tingkatkan di bulan-bulan berikutnya sebagai upaya untuk meraih ketaqwaan.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh

Saat kita selaku umat Islam, meninggalkan Ramadlan tahun ini, dengan diawali dan diiringi takbir yang berkumandang, sampailah kita pada hari raya ‘idul fithri. hari kemenangan untuk umat Islam yang telah melaksanakan puasa

Id, berarti “kembali” dan fithri, berarti “ agama yang benar”atau “kesucian” atau “asal kejadian”.

Kalau fithri kita pahami sebagai “agama yang benar”, maka hal tersebut menuntut keserasian hubungan, karena keserasian tersebut merupakan tanda agama yang benar. Dalam hal ini nabi bersabda :الدين المعاملة ( Agama adalah berinteraksi)

Nasihat-menasehati dan tenggang rasa juga termasuk dalam ajaran agama, karena Nabi SAW juga bersabda ; الدّين النّصيحة ( Agama adalah nasihat )

ه

Dengan demikian, sebagai aktualisasinya untuk setiap orang yang ber’iedul fithri adalah ; Ia harus sadar bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan, dan dari kesadarannya itu, ia bersedia meminta dan menerima maaf.

Selanjutnya kalau kita pahami “fithri” sebagai kesucian atau asal kejadian, maka di sana ada gabungan tiga unsur yang harus menjadi cermin bagi kita, yaitu : benar, baik dan indah.

Maknanya adalah seseorang yang ber’idul fithri dalam arti “ kembali ke kesuciannya”, ia akan selalu berbuat yang indah, benar dan baik, bahkan lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif, ia selalu mencari sisi baik, benar dan indah.

Mencari yang indah akan melahirkan seni, mencari yang baik akan menimbulkan etika, mencari yang benar akan menghasilkan ilmu. Dengan pandangan demikian, ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat, selalu dicari nilai-nilai positif dalam sikap negatif tersebut. Dan kalaupun itu tak ditemukan, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan. Acara silaturrohim maupun halal bihalal yang kita kenal selama ini, selain sebagai fondasi untuk memperkokoh persatuan ummat, juga di dalamnya dituntut upaya saling memafkan. Firman Allah SWT :

tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムÎû Ïä!#§Žœ£9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏJÏà»x6ø9$#ur xáøtóø9$# tûüÏù$yèø9$#ur Ç`tã Ĩ$¨Y9$# 3 ª!$#ur =Ïtä šúüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÌÍÈ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Kalau kita merujuk pada ayat diatas, maka seorang muslim/muslimah yang bertaqwa dituntut atau dianjurkan untuk mengambil paling tidak satu dari tiga sikap dari seseorang yang melakukan kesalahan kepadanya : 1. Menahan amarah, 2. Memaafkan, 3. Berbuat baik kepadanya

Di sisi lain, ketika salah seorang sahabat bersumpah untuk tidak berbuat baik kepada seorang yang melakukan kesalahan terhadap salah seorang anggota keluarganya, maka Alqur’an menganjurkan untuk memaafkan dan melakukan apa yang diishtilahkan al-qur’an dengan As-Shafhu ( berjabat tangan ) sebagaimana yang terdapat dalam Surat An-nur ; 22

Ÿwur È@s?ù'tƒ (#qä9'ré& È@ôÒxÿø9$# óOä3ZÏB Ïpyè¡¡9$#ur br& (#þqè?÷sムÍ<'ré& 4n1öà)ø9$# tûüÅ3»|¡yJø9$#ur šúïÌÉf»ygßJø9$#ur Îû È@Î6y «!$# ( (#qàÿ÷èuø9ur (#þqßsxÿóÁuø9ur 3 Ÿwr& tbq7ÏtéB br& tÏÿøótƒ ª!$# óOä3s9 3 ª!$#ur Öqàÿxî îLìÏm§ ÇËËÈ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari ke dua ayat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa sebenarnya ada tingkat yang lebih tinggi daripada sekedar maaf-memaafkan. Hal tersebut akan terlihat setelah jelas apa yang dimaksud dengan maaf itu. Maaf dalam bahasa Al-qur’an “ Al-afwu “ yang berarti “ Menghapus “, karena yang memaafkan berusaha menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka di dalam hati. Apabila masih ada dendam membara, boleh jadi ketika itu, apa yang ia lakukan baru sampai pada tahap “menahan amarah”.

Kemudian apakah ada sesuatu yang lebih tinggi nilaimya dari ketiga hal tersebut di atas ?

“As-shofhu” dalam surat An-nur ayat 22 yang digambarkan dalam berbentuk berjabat tangan, lebih tinggi nilainya daripada sekedar memaafkan, Demikian jawab para Ulama yang mereka pahami dalam peringkat-peringkat sikap yang diajarkan Al-qur’an. Karena boleh jadi, disaat orang meminta & menerima maaf ada satu-dua titik noda yang belum bersih, maka berjabat tangan merupakan sarana untuk menghilangkan titik-titik noda tersebut. Lebih lanjut, buat kita berjabat tangan bukan hanya sekedar anjuran atau perintah syari’at umat Islam, juga hal ini sudah menjadi budaya untuk semua ummat di negeri kita ini. Begitupun silaturrahim maupun halal bil-halal yang menuntut upaya untuk saling memaafkan, tidak harus dibatasi pada hari raya i’dul fithri saja, tetapi harus dilakukan setiap saat dalam segala aktifitas manusia. Walaupun memang harus diakui acara maaf-memaafkan itu sangat sesuai dengan hakikat ‘iedul fithri ( kembali kepada kesucian )

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh

Perlu diketahui, Saat Allah mengembalikan kita kepada fithrah, maka selayaknya buat kita agar kita berupaya menjaga kefithrahan itu sendiri dengan segenap jiwa dan raga kita, karena pada hari ini iblis dan bala tentaranya semua menjerit & merasa rugi melihat keadaan ini. Selanjutnya mereka ( la’natulloh ) berupaya dengan segala tipu dayanya untuk mengotori kembali fithrah manusia itu sendiri dan tidak sedikit yang tertipu oleh mereka, Naudzu billah summa naudju billah.

Maka dari itu, keimanan dan ketaqwaan harus tetap menjadi landasan buat kita yang merayakan hari raya iedul fithri ini, bukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syari’at.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh

Dari uraian singkat khutbah ini, kita selaku hamba yang lemah dihadapan Allah SWT ; berharap dari puasa yang telah kita lakukan, zakat fithrah yang kita keluarkan, takbir yang kita kumandangkan, silaturrohim dan halal bil halal seraya berjabat tangan dan amalan-amalan lainnya, semoga Allah jadikan keseluruhannya sebagai sarana untuk menghapus dosa-dosa kita yang dapat menghantarkan kita kepada fithrah, dengan menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru seraya berharap semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang bersyukur. Firman Allah SWT :

ãöky­ tb$ŸÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 `yJsù yÍky­ ãNä3YÏB tök¤9$# çmôJÝÁuŠù=sù ( `tBur tb$Ÿ2 $³ÒƒÍsD ÷rr& 4n?tã 9xÿy ×o£Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 3 ߃Ìムª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߃ÌムãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4n?tã $tB öNä31yyd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh

Sebagai penutup, Di hari raya yang fithri ini, secara khusus khotib memohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan di hati. Sekaligus khotib mewakili segenap keluarga besar Yayasan Bina mitra & dewan guru mengucapkan :

من العائدين والفائزين, تفبّل الله منا و منكم صيامنا وصيامكم, كلّ عام وأنتم بخير تقبّل يا كريم

Selamat hari raya ie’dul fithri 1431 H, mohon maaf lahir & bathin apabila dari kami terdapat kesalahan-kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja

جعلنا الله إيانا وإياكم من المتّفين, وتقبّل مني صيامنا وصيامكم.

وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده. لا إله إلا الله و الله أكبر. لا إله إلا الله والله أكبر ألله أكبر ولله الحمد.

إن الحمد لله كما ينبغي لجلاله الكريم وعظيم سلطانه. أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا عبده ورسوله. والصلاة والسلام على رسوله الأعظم سيّد الأنبياء والمرسلين نبيّنا محمّد وعلى اله وصحبه أجمعين, أما بعد :

فيا عباد الله أصيكم وإياي بتقوى الله وطاعته لعلّكم ترحمون.

قال الله تعالى مخبرا وأمرا : إن الله وملئكته يصلّون على النّبي يا أيها الذين أمنوا صلّوا عليه وسلّمو تسليما.

اللهمّ صلّ وسلّم على سيّدنا محمّد وعلى أل سيّدنا محمّد كما صلّيت على سيّدنا إبراهيم وعلى أل سيّدنا إبراهيم وبارك على سيّدنا محمّد وعلى أل سيّدنا محمّد كما باركت على سيّدنا إبراهيم وعلى أل سيّدنا إبراهيم. في العالمين إنّك حميد مجيد.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والآموات. اللهمّ أنت ربّنا لاإله إلاّ أنت. ربّنا اغقرلنا ولوالدينا ولإخواننا الذين سبقونا بالإ يمان ولا تجعل في قلوبنا غلاّ للذين أمنوا ربّنا إنك رؤوف الرّحيم.

أللهمّ اجعلنا من الذين أمنوا يفعلون ما أمرتنا به أن يوصل من الأرحام. ومن الذين أصلحوا بين إخواتهم المؤمنين.

أللهمّ انصرنا على أعدائك أعداء الدّين. اللهمّ ربّنا تقبّل منا صلاتنا وصيا منا واجمع أعمالنا وعباداتنا إنك إنّك أنت السميع العليم وتب علينا إنّك أنت التوّاب الرّحيم.

ربناأتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وفنا عذاب النار والحمد لله رب العالمين

والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

0 Komentar:

 
© free template by Blogspot tutorial